Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan

Senin, Agustus 26

Pentingnya Kesehatan Anak

Merawat bayi mungkin berbeda-beda bagi setiap orang. Ada yang kesulitan dalam merawat bayinya, hal ini biasanya karena bayinya sensitive terhadap asupan makanan atau lingkungan sekitar.  Merawat bayi merupakan hal wajib yang harus dipelajari oleh seorang ibu. Terutama merawat bayi dalam hal menjaga makanannya.

Kesehatan Anak
Menjaga makanan sangat penting dilakukan karena berpengaruh ke kesehatan fisik dan mental sang buah hati akan tumbuh optimal serta bisa terpelihara dgn baik apabila makanan bayi terjamin juga terjaga kebersihannya. Selain menjaga makanannya,tentu saja factor lingkungan sekitar menjadi factor penting dalam merawat bayi. Namun mudah tidaknya merawat bayi, semua kembali ke kekebalan tubuh bayi tersebut.

Senin, Januari 21

Kesehatan Reproduksi Remaja

Kesehatan Reproduksi Remaja
Kesehatan Reproduksi Remaja
Kesehatan reproduksi adalah kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang utuh dan bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan, dalam segala hal yang berhubungan dengan sistem reproduksi dan fungsi-fungsinya serta prosesprosesnya. Oleh karena itu, kesehatan reproduksi berarti orang dapat mempunyai kehidupan seks yang memuaskan dan aman, dan bahwa mereka memiliki kemapuan untuk bereproduksi dan kebebasan untuk menentukan apakah mereka ingin melakukannya, bilamana dan seberapa seringkah. Termasuk terakhir ini adalah hak pria dan wanita untuk memperoleh informasi dan mempunyai akses terhadap cara - cara keluarga berencana yang aman, efektif dan terjangkau, pengaturan fertilitas yang tidak melawan hukum, hak memperoleh pelayanan pemeliharaan kesehatan yang memungkinkan para wanita dengan selamat menjalani kehamilan dan melahirkan anak, dan memberikan kesempatan untuk memiliki bayi yang sehat.

Sejalan dengan itu pemeliharaan kesehatan reproduksi merupakan suatu kumpulan metode, teknik dan pelayanan yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan reproduksi melalui pencegahan dan penyelesaian masalah kesehatan reproduksi. Ini juga mencakup kesehatan seksual, yang bertujuan meningkatkan status kehidupan dan hubungan-hubungan perorangan, dan bukan semata-mata konseling dan perawatan yang bertalian dengan reproduksi dan penyakit yang ditularkan melalui hubungan seks.

Defenisi
Kesehatan reproduksi menurut WHO adalah kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang utuh bukan hanya bebas dari penyakit atau kecatatan, dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya. Reproductive health is a state of complete physical, mental and social welling and not merely the absence of disease or infirmity, in all matters relating to reproductive system and to its funtctions processes (WHO) Agar dapat melaksanakan fungsi reproduksi secara sehat, dalam pengertian fisik, mental maupun sosial, diperlukan beberapa prasyarat :

1. agar tidak ada kelainan anatomis dan fisiologis baik pada perempuan maupun laki-laki. Antara lain seorang perempuan harus memiliki rongga pinggul yang cukup besar untuk mempermudah kelahiran bayinya kelak. Ia juga harus memiliki kelenjar-kelenjar penghasil hormon yang mampu memproduksi hormon-horman yang diperlukan untuk memfasilitasi pertumbuhan fisik dan fungsi sistem dan organ reproduksinya. Perkembangan-perkembangan tersebut sudah berlangsung sejak usia yang sangat muda. Tulang pinggul berkembang sejak anak belum menginjak remaja dan berhenti ketika anak itu mencapai usia 18 tahun. Agar semua pertumbuhan itu berlangsung dengan baik, ia memerlukan makanan dengan mutu gizi yang baik dan seimbang. Hal ini juga berlaku bagi laki-laki. Seorang lakilaki memerlukan gizi yang baik agar dapat berkembang menjadi laki-laki dewasa yang sehat.

2. baik laki-laki maupun perempuan memerlukan landasan psikis yang memadai agar perkembangan emosinya berlangsung dengan baik. Hal ini harus dimulai sejak sejak anak-anak, bahkan sejak bayi.

3. setiap orang hendaknya terbebas dari kelainan atau penyakit yang baik langsung maupun tidak langsung mengenai organ reproduksinya. Setiap kelainan atau penyakit pada organ reproduksi, akan dapat pula menggangu kemampuan seseorang dalam menjalankan tugas reproduksinya. Termasuk disini adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual.

Ruang Lingkup Masalah Kesehatan Reproduksi
Isu-isu yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi kadang merupakan isu yang pelik dan sensitif, seperti hak-hak reproduksi, kesehatan seksual, penyakit menular seksual (PMS) termasuk HIV/AIDS, kebutuhan khusus remaja, dan perluasan jangkauan pelayanan kelapisan masyarakat kurang manpu atau meraka yang tersisih. Karena proses reproduksi nyatanya terjadi terjadi melalui hubungan seksual, defenisi kesehatan reproduksi mencakup kesehatan seksual yang mengarah pada peningkatan kualitas hidup dan hubungan antar individu, jadi bukan hanya konseling dan pelayanan untuk proses reproduksi dan PMS. Dalam wawasan pengembagan kemanusiaan. Merumuskan pelayanan kesehatan reproduksi yang sangat penting mengingat dampaknya juga terasa pada kualitas hidup generasi berikutnya. Sejauh mana seseorang dapatmenjalankan fungsi dan proses reproduksinya secara aman dan sehat sesungguhnya tercermin dari kondisi kesehatan selama siklus kehidupannya, mulai dari saat konsepsi, masa anak, remaja, dewasa, hingga masa pasca usia reproduksi.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Reproduksi
Secara garis besar dapat dikelompokkan empat golongan faktor yang dapat berdampak buruk bagi keseshatan reproduksi:
a. Faktor sosial-ekonomi dan demografi (terutama kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah dan ketidaktahuan tentang perkembangan seksual dan proses reproduksi, serta lokasi tempat tinggal yang terpencil).
b. Faktor budaya dan lingkungan (misalnya, praktek tradisional yang berdampak buruk pada kesehatan reproduksi, kepercayaan banyak anak banyak rejeki, informasi tentang fungsi reproduksi yang membingungkan anak dan remaja karena saling berlawanan satu dengan yang lain, dsb).
c. Faktor psikologis (dampak pada keretakan orang tua pada remaja, depresi karena ketidakseimbangan hormonal, rasa tidak berharga wanita terhadap pria yang membeli kebebasannya secara materi, dsb).
d. Faktor biologis (cacat sejak lahir, cacat pada saluran reproduksi pasca penyakit menular seksual, dsb). Pengaruh dari semua faktor diatas dapat dikurangi dengan strategi intervensi yang tepat guna, terfokus pada penerapan hak reproduksi wanita dan pria dengan dukungan disemua tingkat administrasi, sehingga dapat diintegrasikan kedalam berbagai program kesehatan, pendidikan, sosial dam pelayanan non kesehatan lain yang terkait dalam pencegahan dan penanggulangan masalah kesehatan reproduksi.

Tujuan dan Sasaran Kesehatan Reproduksi
Tujuan Utama
Sehubungan dengan fakta bahwa fungsi dan proses reproduksi harus didahului oleh hubungan seksual, tujuan utama program kesehatan reproduksi adalah meningkatkan ksesadaran kemandiriaan wanita dalam mengatur fungsi dan proses reproduksinya, termasuk kehidupan seksualitasnya, sehingga hak-hak reproduksinya dapat terpenuhi, yang pada akhirnya menuju penimgkatan kualitas hidupnya.

Tujuan Khusus
Dari tujuan umum tersebut dapat dijabarkan empat tujuan khusus yaitu :
1. Meningkatnya kemandirian wanita dalam memutuskan peran dan fungsi reproduksinya.
2. meningkatnya hak dan tanggung jawab sosial wanita dalam menentukan kapan hamil, jumlah dan jarak kehamilan.
3. meningkatnya peran dan tanggung jawab sosial pria terhadap akibat dari perilaku seksual dan fertilitasnya kepada kesehatan dan kesejahteraan pasangan dan anak-anaknya.
4. dukungan yang menunjang wanita untuk menbuat keputusan yang berkaitan dengan proses reproduksi, berupa pengadaan informasi dan pelayanan yang dapat memenuhi kebutuhan untuk mencapai kesehatan reproduksi secara optimal.

Sasaran
Indonesia menyetujui ke -tujuh sasaran reproduksi WHO untuk masa 1993- 2001, karena masih dalam jangkauan sasaran Repelita VI, yaitu:
1. Penurunan 33% angka prevalensi anemia pada wanita (usia 15-49 tahun)
2. Penurunan angka kematian ibu hingga 59%;semua wanita hamil mendapatkan akses pelayanan prenatal, persalinan oleh tenaga terlatih dan kasus kehamilan resiko tinggi serta kegawatdaruratan kebidanan, dirujuk kekapasilitas kesehatan.
3. peningkatan jumlah wanita yang bebas dari kecacatan/gangguan sepanjang hidupnya sebesar 15% diseluruh lapisan masyarakat.
4. Penurunan proporsi bayi berat lahir rendah 
5. Pemberantasan tetanus neonatarum (angka insiden diharapkan kurang dari satu kasus per 1000 kelahiran hidup) disemua kabupaten.
6. Semua individu dan pasangan mendapatkan akses informasi dan pelayanan pencegahan kehamilan yang terlalu dini, terlalu dekat jaraknya, terlalu tua, dan telalu banyak.
7. Proporsi yang memanfaatkan pelayanan kesehatan dan pemeriksaan dan pengobatan PMS minimal mencapai 70% (WHO/SEARO,1995).

Pelayanan Kesehatan Reproduksi
Sesuai dengan rekomendasi strategi regional WHO untuk negara-negara anggota di Asia Tenggara, dua peket pelayanan kesehatan reproduksi telah dirumuskan oleh wakil-wakil sektor dan inter-program dalam beberapa pertemuan koordinasi pralokakarya nasional di Jakarta. Lima kelompok kerja telah sepakat untuk melaksankan pelayanan dasar berikut sebagai strategi intervensi nasional penanggulangan masalah kesehatan reproduksi di Indonesia.
Dengan kedua paket intervensi diatas, komponen intervensi pada kesehatan reproduksi di Indonesia menjadi lengkap, seperti terlihat dalam diagram berikut:

A. Paket Kesehatan Reproduksi Esensial
1. Kesejahteraan Ibu dan Bayi
2. Keluarga Berencana
3. Pencegahan dan penanganan ISR/PMS/HIV
4. Kesehatah Reproduksi Remaja

B. Paket Kesehatan Reproduksi Komprehensip
Pencegahan dan penanganan masalah usia lanjut, selain paket esensial diatas.
Keterangan :
* Paket pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial (Paket PKRE)
** Paket pelayanan Kesehatan Reproduksi Komprehensif (Paket PKRK) PKRE terdiri dari:
1. Kesejahteraan Ibu dan bayi
2. Keluarga Berencana
3. Pencegahan dan penanganan ISR/PMS/HIV dan kemandulan
4. Kesehatan Reproduksi Remaja

PKRK terdiri dari :
PKRE+ Pelayanan dan Penanganan Masalah Usila Strategi kesehatan reproduksi menurut komponen pelayaanan kesehatan reproduksi komprehensif dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Komponen Kesejahteraan Ibu dan Anak
Peristiwa kehamilan, persalinan dan masa nifas merupakan kurun kehidupan wanita yang paling tinggi resikonya karena dapat membawa kematian, dan makna kematian seorang ibu bukan hanya satu anggota keluarga tetapi hilangnya kehidupan sebuah keluarga. Peran ibu sebagai wakil pimpinan rumah tangga sulit digantikan. Untuk mengurangi terjadinya kematian ibu karena kehamilan dan persalinan, harus dilakukaun pemantauan sejak dini agar dapat mengambil tindakan yang cepat dan tepat sebelum berlanjut pada keadaan kebidanan darurat. Upaya intervensi dapat berupa pelayanan ante natal, pelayanan persalinan/partus dan pelayanan postnatal atau masa nifas. Informasi yang akurat perlu diberikan atas ketidaktahuan bahwa hubungan seks yang dilakukan, akan mengakibatkan kehamilan, dan bahwa tanpa menggunakan kotrasepsi kehamilan yang tidak diinginkan bisa terjadi. Dengan demikian tidak perlu dilakukan pengguguran yang dapat mengancam jiwa.

2. Komponen Keluarga Berencana
Promosi KB dapat ditujukan pada upaya peningkatan kesejahteraan ibu sekaligus kesejahteraan keluarga. Calon suami-istri agar merencanakan hidup berkeluarga atas dasar cinta kasih, serta pertimbangan rasional tentang masa depan yang baik bagi kehidupan suami istri dan anak-anak mereka serta masyarakat. Keluarga berencana bukan hanya sebagai upaya/strategi kependudukan dalam menekan pertumbuhan penduduk agar sesuai dengan daya dukung lingkungan tetapi juga merupakan strategi bidang kesehatan dalam upaya peningkatan kesehatan ibu melalui pengaturan jarak dan jumlah kelahiran. Pelayanan yang berkualitas juga perlu ditingkatkan dengan lebih memperhatikan pandangan klien atau pengguna pelayanan.

3. Komponen Pencegahan dan Penanganan Infeksi Saluran Reproduksi (ISR), termasuk Penyakit Menular Seksual dan HIV/AIDS
Pencegahan dan penanganan infeksi ditujukan pada penyakit dan gangguan yang berdampak pada saluran reproduksi. Baik yang disebabkan penyakit infeksi yang non PMS. Seperti Tuberculosis, Malaria, Filariasis, dsb; maupun penyakit infeksi yang tergolong PMS (penyalit menular seksual), seperti gonorrhoea, sifilis, herpes genital, chlamydia, dsb; ataupun kondisi infeksi yang berakibat infeksi rongga panggul (pelvic inflammatory diseases/ PID) seperti alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR), yang dapat berakibat seumur hidup pada wanita maupun pria, misalnya kemandulan, hal mana akan menurunkan kualitas hidupnya. Salah satu yang juga sangat mendesak saat ini adalah upaya pencegahan PMS yang fatal yaitu infeksi virus HIV (Human Immunodeficiency Virus).

4. Komponen Kesehatan Reproduksi Remaja
Upaya promosi dan pencegahan masalah kesehatan reproduksi juga perlu diarahkan pada masa remaja, dimana terjadi peralihan dari masa anak menjadi dewasa, dan perubahan-perubahan dari bentuk dan fungsi tubuh terjadi dalam waktu relatif cepat. Hal ini ditandai dengan berkembangnya tanda seks sekunder dan berkembangnya jasmani secara pesat, menyebabkan remaja secara fisik mampu melakukan fungsi proses reproduksi tetapi belum dapat mempertanggungjawabkan akibat dari proses reproduksi tersebut. Informasi dan penyuluhan, konseling dan pelayanan klinis perlu ditingkatkan untuk mengatasi masalah kesehatan reproduksi remaja ini.

5. Komponen Usia Lanjut
Melengkapi siklus kehidupan keluarga, komponen ini akan mempromosikan peningkatan kualitas penduduk usia lanjut pada saat menjelang dan setelah akhir kurun usia reproduksi (menopouse/adropause). Upaya pencegahan dapat dilakukan melalui skrining keganansan organ reproduksi misalnya kan ker rahim pada wanita, kanker prostat pada pria serta pencegahan defesiensi hormonal dan akibatnya seperti kerapuhan tulang dan lain-lain. Hasil akhir yang diharapkan dai pelaksanaan kesehatan reproduksi yang dimodifikasikan dari rekomendasi WHO tersebut adalah peningkatan akses :
a. Informasi secara menyeluruh mengenai seksualitas dan reproduksi, masalah kesehatan reproduksi, manfaat dan resiko obat, alat, perawatan, tindakan intervensi, dan bagaimana kemampuan memilih dengan tepat sangat diperlukan.
b. Paket pelayanan kesehatan reproduksi yang berkualitas yang menjawab kebutuhan wanita maupun pria.
c. Kontrasepsi (termasuk strerilisasi) yang aman dan efektif
d. Kehamilan dan persalinan yang direncanakan dan aman
e. Pencegahan dan penanganan tindakan pengguguran kandungan tida k aman.
f. Pencegahan dan penanganan sebab-sebab kemandulan (ISR/PMS).
g. Informasi secara menyeluruh termasuk dampak terhadap otot dan tulang, libido, dan perlunya skrining keganasan (kanker) organ reproduksi. Pengukuran perubahan-perubahan yang positif terhadap hasil akhir diatas akan menunjukkan kemajuan pencapaian tujuan akhir; pelayanan kesehatan dasar yang menjawab kebutuhan kesehatan reproduksi individu, suami-istri dan keluarga, hal mana menjadi dasar yang kokoh untuk mengatasi kesehatan reproduksi yang dihadapi seseorang dalam kurun siklus reproduksinya.

PENUTUP
Persoalan kesehatan reproduksi bukan hanya mencakup persoalan kesehatan reproduksi wanita secara sempit dengan mengaitkannya pada masalah seputar perempuan usia subur yang telah menikah, kehamilan dan persalinan, pendekatan baru dalam program kependudukan memperluas pemahaman persoalan kesehatan reproduksi. Dimana seluruh tingkatan hidup perempuan merupakan fokus persoalan kesehatan reproduksi.
Secara tematik, ada lima kelompok masalah yang diperhatikan dalam kesehatan reproduksi, yaitu kesehatan reproduksi itu sendiri, keluarga berencana, PMS dan pencegahan HIV/AIDS, seksualitas hubungan manusia dan hubungan gender, dan remaja. Secara lebih spesifik, berbagai masalah dalam kesehatan reproduksi adalah perawatan kehamilan, pertolongan persalinann, infertilitas, menopause, penggunann kontrasepsi, kehamilan tidak dikehendaki dan aborsi baik pada remaja maupun pasangan yang telah menikah, PMS dan HIV/AIDS (berkaitan dengan prostitusi, homoseksualitas, gaya hidup dan praktek tradisional), pelecehan dan kekerasan pada perempuan, pekosaan, dan layanan dan informasi pada remaja.

Berfungsinya sistem reproduksi wanita dipengaruhi oleh aspek-aspek dan proses-proses yang terkait pada setiap tahap dalam lingkungan hidup. Masa kanak-kanak, remaja pra -nikah, reprodukstif baik menikah maupun lajang, dan menopause akan dilalui oleh setiap perempuan, dan pada masa- masa tersebut akan terjadi perubahan dalam sistem reproduksi. Pada saat yang bersamaan dimungkinkan adanya faktor-faktor non klinis yang menyertai perubahan itu, seperti faktor sosial, faktor budaya dan faktor politik yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah. Berperannya berbagai faktor dalam kesehatan reproduksi ini selanjutnya menberikan pemahaman akan keterlibatan subjek atau pelaku, diluar kelompok perempuan itu sendiri.

Salah satu subjek terdekat dan langsung berkaitan dengan masalah reproduksi perempuan adalah kelompok laki-laki. Laki-laki dalam hal ini berperan penting sesuai dengan statusnya terhadap perempuan, baik sebagai suami, saudara, ayah, teman, atasan maupun critical person dalam penentuan kebijakan.

Sabtu, September 22

Asi ekslusif

ASI Eksklusif

ASI eksklusif atau lebih tepatnya pemberian ASI secara eksklusif adalah bayi hanya diberi ASI saja, tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, dan tanpatanbahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biscuit, bubur nasi, dan tim. Pemberian ASI eksklusif ini dianjurkan untuk waktu sampai 6 bulan. Setelah bayi berumur 6 bulan, ia harus mulai diperkenalkan dengan makanan padat, sedangkan ASI dapat diberikan sampai berusia 2 tahun atau bahkan lebih (Roesli, 2005).
Pemberian makanan tambahan yang terlalu dini dapat mengganggu pemberian ASI eksklusif serta beresiko membahayakan kesehatan bayi dan meningkatkan resiko terkena penyakit. Selain itu, tidak ditemukan bukti yang menyokong bahwa pemberian makanan tambahan pada usia 4 atau 5 bulan lebih menguntungkan. Bahkan sebaliknya, hal ini akan mempunyai dampak yang negatif terhadap kesehatan bayi dan tidak ada dampak positif untuk perkembangan pertumbuhannya.

2. Pertumbuhan bayi yang menyusu secara eksklusif
Keuntungan bayi yang disusui secara eksklusif adalah kecukupan zat gizi yang dikandung dalam ASI sehingga dapat menjamin pertumbuhan yang normal. Menyusui secara eksklusif dilakukan sampai umur 6 bulan, pada bayi cukup bulan maupun bayi premature atau berat lebih rendah (Suradi, 2003 : 3). Penelitian menunjukkan bahwa kenaikan berat badan bayi yang diberi susu formula terlalu banyak, sedangkan kenaikan berat badan bayi dengan ASI eksklusif normal. ASI menghindarkan kegemukan kelak bila ia besar. ASI dapat meningkatkan IQ bayi sampai 12,9 poin. Bayi ASI eksklusif memiliki bentuk rahang dan gigi yang bagus, dan mempunyai penglihatan yang lebih baik (Roesli, 2005 : 34).

3. Alasan pemberian ASI eksklusif sampai 6 bulan
a. ASI mengandung lebih dari 200 unsur-unsur pokok, antara lain zat putih telur, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, faktor pertumbuhan, hormone, enzime, zat kekebalan, dan sel darah putih. Semua zat ini terdapat secara proposional dan seimbang satu dengan yang lainnya. Cairan hidup yang mempunyai keseimbangan biokimia yang sangat tepat, yang tidak mungkin ditiru oleh buatan manusia. Komposisi ASI sesuai secara alamiah dengan kebutuhan untuk tumbuh kembang secara khusus bagi bayi (Roesli, 2005 : 24).
b. Bayi dibawah usia 6 bulan belum mempunyai enzim pencernaan yang sempurna belum mampu mencerna makanan dengan baik. ASI mengandung beberapa enzim yang memudahkan pemecahan makanan selanjutnya.
c. Ginjal bayi masih muda belum mampu bekerja dengan baik. Makanan tambahan termasuk susu sapi biasanya mengandung banyak mineral yang dapat memberatkan fungsi ginjal bayi yang belum sempurna.
d. Makanan tambahan mungkin mengandung zat tambahan yang berbahaya bagi bayi, misalnya zat warna dan zat pengawet.
e. Makanan tambahan bagi bayi yang belum berumur 6 bulan mungkin menimbulkan alergi (Suradi, 2003 : 4).
f. ASI sudah didisain sedemikian rupa oleh Tuhan sehingga mudah dicerna, karena selain mengandung zat gizi yang sesuai, ASI juga disertai oleh zat-zat yang mengandung enzim-enzim yang berfungsi untuk mencernakan zat-zat gizi yang terdapat dalam ASI tersebut. ASI mengandung zat-zat gizi berkualitas tinggi yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan bayi. Selain mengandung protein yang tinggi, ASI memiliki perbandingan antara whei dan kasein yang sesuai untuk bayi (Anton Baskoro, 2008 : 6-7).

4. Tujuh langkah kebersihan ASI eksklusif
Langkah-langkah yang terpenting dalam persiapan keberhasilan menyusui secara eksklusif adalah sebagai berikut :
a. Mempersiapkan payudara bila diperlukan.
b. Mempelajari ASI dan tata laksana menyusui.
c. Menciptakan dukungan keluarga, teman, dan sebagainya.
d. Memilih tempat melahirkan yang “sayang bayi”.
e. Memilih tenaga kesehatan yang mendukung pemberian ASI secara eksklusif.
f. Mencari ahli persoalan menyusui seperti Klinik laktasi.
g. Menciptakan suatu sikap yang positif tentanf ASI dan menyusui.

5. ASI eksklusif meningkatkan kecerdasan
Dengan memberikan ASI secara eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan menjamin tercapainya pengembangan kecerdasan anak secara optimal. Hal ini karena selain sebagai nutrient yang ideal. Dengan komposisi yang tepat, serta disesuaikan dengan kebutuhan bayi, ASI juga mengandung nutrient-nutrient khusus yang diperlukan otak bayi agar tumbuh optimal. Nutrient-nutrient khusus tersebut tidak terdapat atau hanya sedikit terdapat pada susu sapi.
Nutrient yang diperlukan untuk pertumbuhan otak bayi yang tidak ada atau sedikit sekali terdapat pada susu sapi, antara lain :
a. Taurin;
Yaitu suatu bentuk zat putih telur yang hanya terdapat pada ASI.
b. Laktosa;
Merupakan hidrat arang utama dari ASI yang hanya sedikit sekali terdapat pada susu sapi.
c. Asam lemak ikatan panjang;
(DHA, AA, Omega-3, Omega-6) merupakan asam lemak utama dari ASI yang hanya terdapat sedikit dalam susu sapi.
Mengingat hal-hal tersebut di atas, dapat dimengerti bahwa pertumbuhan otak bayi yang biberi ASI secara eksklusif selama 6 bulan akan optimal dengan kualitas yang optimal pula.

6. ASI eksklusif meningkatkan jalinan kasih sayang
Bayi yang sering berada dalam dekapan ibu karena menyusu akan merasaakan kasih sayang ibunya. Ia juga akan merasa aman dan tentram, terutama karena masih dapat mendengar detak jantung ibunya yang telah ia kenal sejak dalam kandungan. Perasaan terlindungi dan disayangi inilah yang akan menjadi dasar perkembangan emosi bayi dan membentuk kepribadian yang percaya diri dan dasar spiritual yang baik.
Pemberian ASI eksklusif akan memenuhi kebutuhan awal bayi untuk tumbuh kembang secara optimal baik fisik, kepandaian, emosional, spiritual maupun sosialisasinya.

Sabtu, Mei 1

Sering Ngeseks Cegah Penyakit Kronis

Sering Ngeseks Cegah Penyakit Kronis
Kelelahan
Sering Ngeseks Cegah Penyakit Kronis - Menteri Kesehatan Brasil ternyata punya kiat khusus agar warga negaranya bisa hidup lebih sehat. Ia menyarankan, warga Brasil bisa memerangi penyakit kronis dengan latihan fisik secara teratur, khususnya hubungan seksual.


"Orang-orang harus lebih aktif. Bermain sepak bola akhir pekan jangan cuma jadi aktivitas fisik untuk Brasil.. Setiap orang dewasa perlu melakukan latihan: berjalan, berdansa, dan seks yang aman," kata Jose Gomes Temporao.

Sang menteri memberi nasihat saat ia meluncurkan kampanye untuk mencegah tekanan darah tinggi, yang menimpa seperempat dari 190 juta penduduk Brasil.

Kamis, Desember 31

Penyakit Bisa Dilihat Dari Warna Lidah

Pernahkah memperhatikan warna dan bentuk lidah Anda? Ternyata, selain sebagai indera pengecap, lidah juga bisa memberikan sinyal ketika tubuh mengalami gangguan kesehatan. Warna dan bentuk yang tidak normal tersebut bisa menunjukkan kondisi kesehatan. Ahli akupuntur, Dr Vanda Huang mengungkapkan arti dari gejala tidak normal yang dideteksi lewat lidah, seperti yang dikutip dari shineyahoo.com.

1. Gejala: lidah berwarna keunguan.
Kondisi ini bisa menandakan peredaran darah yang tidak lancar. Penyebabnya antara lain bisa karena stres kronis, atau sedang mengalami nyeri tubuh kronis.

Pengobatan: bisa diatasi dengan akupunktur, cupping, atau gua sha (teknik penyembuhan yang melibatkan pemeriksaan secara meraba) untuk memperlancar peredaran darah, detoksifikasi, dan membuat rileks otot-otot yang tegang.

2. Gejala: terdapat lapisan putih yang tebal
Menunjukkan masalah dengan pencernaan atau pola makan buruk.

Pengobatan: Akupunktur, moxibustion (proses pemanasan herbal, biasanya Artemisia, lebih dari titik akupunktur tertentu untuk menyehatkan dan memperkuat organ tubuh), dan perubahan pola makan seperti mengurangi makanan mentah, kedelai, susu, dan gula.


3.Gejala: memiliki lapisan kuning.
Menandakan panas tubuh yang berlebihan karena terlalu banyak mengonsumsi alkohol, makanan pedas, mengalami stres emosional dalam jangka panjang, atau akibat merokok.

Pengobatan: Akupunktur dan mengonsumsi ramuan pendingin temperatur tubuh, seperti peppermint, jelatang, ketumbar, dan dandelion hijau, yang ditambah berbagai ramuan Cina.

4. Gejala: bentuk lidah berlekuk-lekuk.
Menunjukkan kelelahan yang dapat menimbulkan kehilangan gairah, kekuatan memori menurun, dan mudah merasa kedinginan.

Pengobatan: Akupunktur, moxibustion, dan mengubah pola makan (perbanyak bahan makanan alami yang mudah dicerna, seperti labu, ubi jalar, dan wortel), dan konsumsi juga makanan menghangatkan, seperti bawang putih, jahe, bawang merah, daun bawang, dan kayu manis.

5. Gejala: Ujung lidah berwarna merah terang.
Menunjukkan stres, gelisah, cemas, dan sulit tidur.

Pengobatan: Akupunktur, teknik relaksasi, mengonsumsi herbal seperti gandum, lemon, lavender, dan St John’s wort yang ditambah berbagai ramuan Cina. (kosmo.vivanews.com)

Oral Seks Sering Dilakukan Kelelawar

Peneliti biologi dari Guangdong Entomological Institute di China mengungkapkan dua dari tiga kelelawar betina sering melakukan oral seks dalam setiap aktivitas seksualnya.

Namun, binatang malam dengan nama latin Cynopterus sphinx itu, sebenarnya bukanlah satu-satunya hewan yang selalu melakukan oral seks. Sebelumnya, diketahui simpanse juga termasuk binatang yang selalu melakukan oral seks.

Oral seks merupakan aktivitas-aktivitas seksual yang mencakup penggunaan mulut dan lidah untuk merangsang genitalia. Biasanya, seks oral dilakukan sebagai pembukaan atau foreplay sebelum bersetubuh (coitus). Seks oral mencakup memberi atau menerima stimulasi oral (seperti menghisap atau menjilat) genitalia.

“Kelelawar betina sangat bergairah dalam melakukan oral seks, hampir 70 persen kelelawar betina melakukannya sebelum melakukan hubungan,” ujar seorang peneliti, Libiao Zhang.

Libiao mengungkapkan, kelelawar betina menginginkan hubungan seks yang lama sehingga melakukan oral seks terlebih dahulu. Rata-rata aktivitas oral seks dilakukan selama empat menit sebelum melakukan hubungan seks. (techno.okezone.com)

Jumat, November 20

Sulitnya Turunkan si Kolesterol Jahat

SURVEI terkini di delapan negara Asia melaporkan, 50 penduduk Asia gagal menurunkan kadar kolesterol jahat mereka sesuai target yang disarankan dalam panduan pengobatan. Di Indonesia, kegagalan ini bahkan mencapai 70 persen.

Rendang, gulai otak sapi, telur balado, tongseng kambing. Menumenu masakan Indonesia tersebut tak dimungkiri kelezatannya. Terbayang kenikmatan saat menyantapnya dengan nasi hangat mengepul. Hmm...sedap! Namun, hasrat menyantap hidangan berprotein hewani tersebut acapkali dibayangi risiko kenaikan kolesterol. Kuning telur, otak sapi, daging sapi Australia, daging kambing dan udang adalah sederetan produk hewani yang jika dikonsumsi berlebih dapat meningkatkan risiko tersebut.

Gusi Terawat Janin Sehat

JANGAN pernah menyepelekan kesehatan gusi, terutama di masa-masa kehamilan. Pasalnya, gusi yang bermasalah bisa memengaruhi kesehatan janin. Bagaimana merawat gusi tetap sehat saat hamil?

Senyum yang indah, gigi yang rata juga putih, bukanlah suatu jaminan bahwa gigi dan gusi seseorang sehat. Orang yang rajin menyikat gigi pun belum tentu memiliki gusi yang sehat dan terawat. Biasanya mereka lebih memfokuskan perawatan gigi ketimbang gusi.

Dikatakan oleh seorang ahli kesehatan gusi Drg Yulia Rachma SpPerio bahwa menurut penelitian, masyarakat Indonesia sendiri pada umumnya kurang memerhatikan kesehatan gusi. Pendapat tersebut juga didukung data statistik Survei Kesehatan Nasional 2002. Pada data tersebut tercatat 7 dari 10 orang Indonesia mempunyai problem gusi berdarah.Dan menurut data dari Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), prevalensi radang gusi (gingivitis) di seluruh dunia adalah 75-90 persen.

Sedangkan data dari penelitian di Rumah Sakit Gigi & Mulut Pendidikan Universitas Prof Dr Moestopo pada 2004 mencatat bahwa 71,3 persen pasien di rumah sakit ini memiliki karang gigi sebagai pemicu timbulnya penyakit radang gusi, 3 persen menderita pendarahan gusi, 25,55 persen mengalami penurunan gusi, dan hanya 0,44 persen yang dinyatakan sehat.

"Itulah beberapa bukti yang menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia masih minim sekali perhatiannya terhadap kebersihan dan kesehatan gusi," tutur Yulia saat acara workshop bertema ?Gusi Terawat untuk Janin Sehat' yang diadakan oleh Pepsodent Complete & Gum Care di The One Resto FX, Senayan, baru-baru ini.

Minimnya perawatan terhadap gusi tersebut ternyata bisa menjadi penyebab penyakit radang gusi. Radang gusi adalah infeksi pada gusi yang disebabkan oleh plak, yaitu lapisan yang melekat dan terdiri atas bakteri, saliva, dan sisa-sisa makanan.

"Penyakit radang gusi juga bisa merusak jaringan penyangga gigi lainnya, yang dikenal dengan istilah periodontitis," ucap dokter lulusan Universitas Indonesia.

Periodontitis adalah kondisi di mana terjadinya kerusakan jaringan penyangga gigi yang ditandai dengan pembengkakan gusi, terdapat celah antara gigi dan gusi, gusi turun sehingga bakteri dapat bersarang di celah antara gigi dan gusi. Tidak hanya gusi, tulang yang menjadi landasan pun menjadi sangat rentan terkena infeksi. Dan pada kondisi ini, kedudukan gigi menjadi goyang atau bahkan lepas.

Lebih lanjut Yulia menuturkan bahwa jika radang gusi tidak ditangani, maka dapat memburuk menjadi periodontitis, di mana infeksi sudah menjalar ke jaringan pendukung gigi lain. Dan apabila tidak ditangani, maka bakteri bisa masuk ke pembuluh darah dan menyebabkan penyakit di bagian lain seperti stroke, diabetes, jantung, dan pada ibu hamil dapat menyebabkan bayi terlahir prematur atau dengan berat tubuh yang kurang.

"Penelitian terakhir mengindikasikan bahwa perempuan hamil dengan penyakit gusi yang kronis mempunyai risiko tujuh kali lebih besar untuk memiliki bayi lahir prematur," ujarnya.

Selain bakteri pada plak juga terdapat faktor-faktor lain yang menyebabkan penyakit radang gusi, seperti cara menyikat gigi, tekanan pada gusi, merokok, serta pengaruh hormonal pada masa kehamilan.

Pada saat hamil, biasanya ibu hamil mengalami perubahan gigi dan mulut. Perubahan bisa berupa pelebaran dan perlunakan pembuluh darah gusi. Artinya, gusi lebih mudah berdarah bila terkena sikat gigi dan bisa terjadi pembengkakan gusi yang disebut epulis gravidarum atau pregnancy tumor. Penyakit ini akan berangsur-angsur sembuh setelah melahirkan.

Biasanya pregnancy tumor terjadi di gusi. Tepatnya di antara dua gigi (interdental) dan dapat berkembang dengan cepat meskipun umumnya diameter lesi ini berukuran tidak lebih dari 2 cm. Pengaruh kesehatan gusi terhadap kehamilan juga diakui oleh dokter kandungan Dr Boy Abidin SpOG. Dia mengatakan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan gusi bermasalah pada ibu hamil adalah perubahan hormonal dan terjadinya pelebaran serta perlunakan pembuluh darah gusi pada masa kehamilan.

"Toksin yang memasuki aliran darah melalui celah antara gusi dan gigi membuat janin stres yang menyebabkan bayi lahir dengan berat kurang atau prematur. Tercatat 77 persen ibu yang melahirkan bayi prematur menderita penyakit radang gusi," jelasnya di acara yang sama.

Toksin yang masuk tersebut juga dapat menyebabkan peradangan pada gusi dan akan lebih buruk lagi bila sang ibu memiliki kesehatan dan kebersihan gigi dan mulut yang buruk. Oleh sebab itu, Boy selalu menganjurkan para ibu yang merencanakan kehamilan sebaiknya memerhatikan kesehatan rongga mulutnya terlebih dahulu.

4 titik rangsangan seks wanita

4 titik rangsangan seks wanita - FOREPLAY akan menjemukan jika hanya bagian itu-itu saja yang Anda eksplor. Tengoklah titik sensitif lain tubuh pasangan yang bisa membuatnya bergairah.

Terdapat banyak titik sensitif wanita yang bisa Anda eksplor sebelum pergulatan sesungguhnya. Area seperti vagina, payudara, atau bokong memang punya saraf sangat peka, tapi wanita juga punya banyak sensor di setiap jengkal tubuhnya.

Berikut beberapa di antaranya seperti dikutip Askmen:

Rambut

Merawat rambut tetap cantik bukan satu-satunya alasan wanita rutin ke salon. Proses mencuci, memotong, mewarnai, dan memberi sentuhan rambut bergaya baginya adalah sarana pelepasan stres.